penanganan untuk penderita gangguan jiwa memiliki keunikan masing-masing. Penderita gangguan jiwa  disebut juga Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) bisa sembuh tanpa bekas namun pada kondisi lain ODGJ tetap memerlukan bantuan obat-obatan. Disebut unik misalnya seorang pasien dengan gangguan depresi ada yang bisa sembuh tanpa obat dalam terapinya namun pasien yang lain dengan diagnosa yang sama harus menggunakan obat bahkan sampai seumur hidup. Daya tahan dan kemampuan adaptasi dalam menghadapi masalah juga sangat mempengaruhi cepat lambatnya kesembuhan ODGJ.
( Menurut dr Andri, SpKJ, FAPM dalam http://lifestyle.kompas.com/read/2014/09/29/104547323 )

Faktor yang Memperlambat Kesembuhan.

Hambatan kesembuhan bisa berasal dari diri ODGJ, keluarga maupun masyarakarat seperti berikut ini :

1.    ODGJ tidak disiplin melakukan kontrol atau tidak rutin meminum obat. Pada beberapa kasus gangguan jiwa memang memakan waktu yang lama sehingga terkadang ODGJ merasa tidak kunjung sembuh. Selain perasaan bosan, malu untuk melakukan kontrol apalagi secara rutin datang ke psikolog/psikiater juga dapat memperlambat kesembuhan.

2.    Anggapan seperti bahwa ODGJ dapat sembuh sendirinya. Tentu saja hal ini salah.  Diperlukan pertolongan dari yang ahlinya seperti psikiater ataupun psikolog untuk menegakkan diagnosa dan terapi yang diperlukan. Datang pada orang yang tidak tepat seperti dukun atau orang pintar lainnya hanya akan memperparah kondisi ODGJ.

3.    Takut akan efek samping obat, khawatir dengan hasil diagnosis, dan merasa hal tersebut membuang waktu dan uang. Terapi yang dijalani ODGJ ada yang sampai menahun sehingga memang memerlukan energi dan dan biaya yang tidak sedikit selama pengobatan.

4.    Anggapan bahwa gangguan jiwa disebabkan karena kurang kuat iman atau nilai tentang spiritualnya yang rendah. Bisa saja itu benar namun secara medis seseorang yang mengalami gangguan jiwa disebabkan adanya gangguan pada keseimbangan zat kimia (neurotransmitter) atau kerusakan sel dan saraf otak.

Bahaya jika gangguan jiwa diabaikan

Ada beberapa hal yang dapat terjadi jika gangguan jiwa tidak segera tertangani seperti : kondisi ODGJ bertambah buruk, merusak fungsi kognitif otak sehingga mempengaruhi kemampuan belajar atau bekerja bahkan kesulitan melakukan kegiatan sehari-hari seperti makan atau mandi. Hal ini akan mempengaruhi kualitas hidup termasuk kesehatan fisiknya dan hubungan sosialnya  yang terganggu. Ancaman bahaya selanjutnya adalah tindakan pembahayaan orang lain, diri sendiri hingga pada tindakan bunuh diri. Ini bisa disebabkan karena rasa putus asa namun logikanya adalah gangguan jiwa dapat membuat orang tidak mampu berpikir rasional.

Gaya Hidup Sehat Cegah Kekambuhan

Pada kasus gangguan depresi walaupun sudah diterapi optimal, ODGJ masih berisiko kambuh.  Obat-obatan dapat menahan kekambuhan. Diperlukan makanan sehat dan bergizi seimbang untuk menopang tubuh ODGJ agar tetap sehat atau suplemen makanan jika diperIukan. Individu yang memiliki jasmani yang sehat akan terhindar dari stress dan ini dapat membantu ODGJ untuk tidak terpicu stress.  Penelitian Sukadiyan (2010) menyebutkan olahraga selain membuat tubuh sehat juga meningkatkan daya tahan tubuh untuk tidak mudah terkena stress. Melakukan kegiatan yang menyenangkan seperti melakukan hobi, relaksasi seperti pijat, berlibur, yoga, meditasi lainnya dapat pula dilakukan selain konseling, psikoterapi. Kemudian hal terpenting adalah bagaimana menjaga kualitas hidup dan fungsi sosial ODGJ kembali normal.

Dukungan Keluarga dan Masyarakat        

Untuk menjaga kualitas hidup dan mengembalikan fungsi sosial ODGJ diperlukan dukungan keluarga dan masyarakat seperti berikut ini :

1.    Keterbukaan keluarga atas kondisi anggota keluarga yang mengalami gangguan jiwa adalah hal yang utama dalam pertolongan pertama ODGJ. Selanjutnya jika ODGJ sudah melalui terapi ataupun rehabilitasi, dukungan keluarga sangat dibutuhkan agar ODGJ dapat kembali bersosialisasi, misalnya membawa ODGJ baik pada acara keluarga ataupun pertemuan sosial lainnya.

2.    Selain menemani terapi, keluarga harus tetap mendampingi ODGJ untuk tetap disiplin kontrol dan minum obat. Keterbatasan biaya dan akses memang merupakan beberapa hal yang menghambat kesembuhan ODGJ. Namun saat ini Kepala Departemen Informasi dan Komunikasi Antarlembaga BPJS Kesehatan Pusat, Irfan Humaidi dalam https://tirto.id/mengatasi-problem-kesehatan-mental-dengan-bpjs-ck32  memastikan bahwa BPJS telah menjamin penderita kesehatan mental mendapatkan pelayanan medis sebaik-baiknya. Pasien yang mengalami gangguan kesehatan mental akan diperiksa dan diberikan assesmen awal oleh psikolog atau dokter di Puskesmas. Bila memang pasien tidak bisa ditangani di Puskesmas akan dirujuk ke dokter spesialis kejiwaan di rumah sakit. Masalah biaya tidak boleh menghambat kesembuhan ODGJ.

3.    Kesiapan keluarga untuk menerima dan mendampingi ODGJ melakukan resosialisasi. Konsultasi dengan keluarga selama proses terapi maupun ataupun pada tahap resosialisasi sangat diperlukan sehingga keluarga memahami penanganan ODGJ di rumah.

4.    Masyarakat perlu terus diedukasi bahwa ODGJ juga manusia, memiliki hak yang sama dengan yang lainnya. Sosialisasi dapat berupa kegiatan   seminar   ataupun   penyuluhan  di balai pertemuan, puskesmas, tempat kerja atau sarana lainnya yang   didalamnya   dijelaskan  tentang ODGJ, pendeteksian  awal, cara penanganan dan bagaimana menyikapi  ODGJ.  Hal ini dapat mengurangi stigma negatif yang diberikan oleh masyarakat.

5.    Segera mendapatkan pertolongan pada tenaga ahli untuk mengetahui diagnosa yang jelas. Semakin cepat gangguan kejiwaan terdeteksi dan dan ditangani, semakin cepat pula kesembuhan terjadi.

6.    Mengidentifikasi lembaga atau panti yang menangani ODGJ. Pemerintah menyediakan Rumah Sakit Jiwa dan Panti Bina Laras sebagai rehabilitasi.

Sumber :

http://lifestyle.kompas.com/read/2014/09/29/104547323/.Mengapa.Sakit.Jiwa.Saya.Tak.Sembuh-Sembuh.Ya.Dok diunduh pada tanggal 20 Oktober 2017 pukul 13.05 WIB.

http://eprints.uny.ac.id/3706/1/06Sukadiyanto.pdf diunduh pada tanggal 20 Oktober 2017 pukul 14.17 WIB.

http://lib.ui.ac.id/naskahringkas/2015-08/S46437-Atika%20Elis%20Subekti diunduh pada tanggal 20 Oktober 2017 pukul 10.50 WIB.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *