Sosialisasi Program Penjangkauan Anak Disabilitas Mental (Eks Psikotik) Luar Panti

Pati, 28 September 2016. “ Berdasarkan Surat persetujuan Kemenpan RB No : B/2964/M.PAN-RB/08/2016 tanggal 31 Agustus 2016 tentang Alih Fungsi dan Pembentukan Unit Pelaksana Teknis di Lingkungan Ditjen Rehabilitasi Sosial Kemensos sehingga Perlu dilakukan persiapan-persiapan dan perintisan untuk perubahan, sasaran layanannya yaitu penyandang disabilitas mental, termasuk Keluarga, Masyarakat, dan Instansi Terkait”. Demikian paparan Kepala PSAA Tunas Bangsa Pati, Dra. Jiwaningsih, M.SI dalam kegiatan sosialisasi program penjangkauan anak disabilitas mental di luar panti Rabu (28/09)

Adapun tujuan umum kegiatan ini adalah untuk meningkatkan kesejahteraan sosial bagi anak dengan disabilitas mental, dan tujuan khususnya adalah terwujudnya keseimbangan kondisi fisik, mental, sosial anak dengan disabilitas mental, meningkatnya kemampuan keluarga sebagai pembimbing dan pendamping bagi anaknya. Acara tersebut dihadiri oleh 30 TKSK (Tenaga Kerja Sosial Kecamatan) yang terdiri 21 berasal dari kota Pati, 2 dari rembang dan 7 dari kudus serta tim rehsos dan peksos PSAA Tunas Bangsa Pati. Diharapkan pertemuan ini memberikan gambaran kepada instansi terkait untuk dapat bekerjasama dalam pelayanan kepada anak esk psikotik. Dalam acara itu dihadiri oleh narasumber dari dinas kesehatan, dr. Aviani Tritanti Venusia, MM yang memaparkan tentang kesehatan jiwa dan konsep disabilitas mental. Beliau menjelaskan bahwa psikotik adalah gangguan jiwa yang ditandai dengan ketidak mampuan individu menilai kenyataan yang terjadi, misalnya terdapat halusinasi, waham atau perilaku kacau. Dinas kesehatan sangat bersyukur PSAA Tunas Bangsa Pati ditunjuk sebagai unit pelaksana teknis rehabilitasi disabilitas mental, karena menurut data dinas kesehatan bahwa pati menduduki peringkat 1 dengan jumlah orang dengan gangguan jiwa terbesar yaitu 4000 jiwa, sehingga hal ini perlu mendapatkan perhatian lebih dari pemerintah, sedangkan menurut dinsosnakertrans pati, masih mendapatkan kendala dilapangan dalam hal penanganganan rujukan orang dengan gangguan jiwa terlantar karena belum ada SOP sehingga berharap dapat duduk bersama antara dinas kesehatan dan dinas sosial untuk menyusun alur rujukan agar orang dengan gangguan jiwa terlantar dapat tertangani, sedangkan posisi PSAA Tunas Bangsa Pati adalah menangani disabilitas mental yang sudah selesai rehabilitasi medic dan dibuktikan dengan rekomendasi psikiater tandas Dra Jiwaningsih, M.Si Setelah pemaparan, di tutup dengan diskusi tanyajawab terkait bagaimana teknik komunikasi dan assessment terhadap orang disabilitas mental karena selama ini TKSK berhadapan dengan anak –anak terlantar saja, pertanyaan ini ditanggapi oleh Psikolog PSAA, Ibu Ririf bahwa dalam pengkajian pada orang gangguan kejiwaan sulit untuk dipercaya tetapi kita dapat assessment melalui keluarga atau tetangga terdekat untuk mendapatkan informasi, dengan belajar dari pengalaman pasti akan dapat terampil berkomunikasi dengan disabilitas mental.